Skip to main content

Kenapa Memilih Jam Tangan Automatic

Pernahkah anda berpikir mengapa ada jam tangan yang dapat dihargai begitu mahal dari jutaan hingga milyaran rupiah? Padahal jam tangan yang sering anda temui dan mungkin anda pakai saat ini sudah cukup memenuhi kebutuhan anda, bahkan dapat pula disertai fungsi lain seperti stopwatch, alarm, dan lain-lain dengan harga yang relatif terjangkau, sedangkan jam yang berharga mahal tersebut bisa jadi hanya menunjukkan waktu saja.

Saat ini kebanyakan jam tangan digerakkan dengan tenaga baterai yang kemudian akurasinya diatur melalui getaran kristal kuarsa/quartz yang dialiri listrik, itulah asal usul nama quartz yang sering kita temukan pada berbagai jam yang kita lihat sehari-hari. Teknologi ini merevolusi pembuatan jam tangan karena jam tangan quartz lebih akurat, lebih tahan banting, dan lebih terjangkau. Namun teknologi ini baru muncul sekitar penghujung tahun 1960-an dan jam tangan sudah ada jauh sebelum muncul teknologi quartz. Lantas apa yang menggerakan jam tangan saat itu?

Ternyata jam tangan saat itu menggunakan mekanisme gerakan yang saling terkait antara bermacam-macam roda gigi dengan pegas yang dikencangkan. Pegas yang awalnya dikencangkan ini kemudian akan melonggar dan menggerakan berbagai roda gigi yang ada di jam tangan tersebut dan pada akhirnya menggerakan jarum jam. Jam tangan seperti ini kemudian dikatakan sebagai jam tangan mekanik dikarenakan pengisian dayanya menggunakan gaya mekanik yang berasal dari pegas yang dikencangkan.

Awalnya, untuk mengencangkan pegas (mainspring) untuk mengisi tenaga jam tangan pemakainya harus memutar crown pada jam tangan tersebut. Namun akhirnya orang mulai berpikir bagaimana caranya agar tenaga jam tetap terisi tanpa harus diputar setiap hari. Berbagai inovasi dilakukan dimulai bahkan pada jam saku. Kebutuhan jam tangan yang dapat mengisi dayanya sendiri pun semakin vital dengan munculnya Perang Dunia I dengan banyaknya tentara yang menggunakan jam tangan dalam aksinya.

Sampai satu saat seseorang bernama John Harwood menciptakan jam tangan pertama yang dapat mengencangkan mainspring sendiri melalui putaran sebuah bandul/rotor yang terpasang di dalam jam tangan. Jam tangan John Harwood yang dijuluki “Bumper” kemudian dianggap sebagai jam tangan automatic pertama yang sukses secara komersil di dunia. Dikatakan sebagai jam tangan automatic/otomatis dikarenakan jam tangan ini dapat mengisi tenaganya sendiri dengan pergerakan tangan pemakainya yang kemudian menggerakan rotor yang mengencangkan mainspring. Selanjutnya, jam tangan yang hanya dapat dikencangkan mainspringnya melalui crown dikenal sebagai jam tangan manual.

Dewasa ini, minat untuk jam tangan mekanik tidaklah surut meski jam tangan quartz banyak beredar, malah beberapa menganggap jam tangan mekanik satu tingkat di atas jam tangan quartz. Layaknya orang yang memilih mengendarai mobil bertransmisi manual dibanding automatic, orang yang memilih menulis dengan fountain pen dibanding pulpen biasa, ada satu hal yang lebih terasa feel-nya, tertangkap ‘jiwanya’, dan mempunyai nilai seni lebih dibanding yang biasa ditemui. Terasa satu ‘keterlibatan fisik’ yang lebih dalam dengan benda tersebut dibandingkan yang lain. Tidak hanya itu, kerumitan dalam pembuatan benda tersebut juga menjadi daya tarik bagi mereka yang memakainya. Hal-hal seperti itulah yang kemudian menjadikan jam tangan mekanik tetap berada di hati penggemarnya dan juga menarik banyak orang untuk berkecimpung di dalamnya.

Dengan pasar jam tangan mekanik yang terus eksis sampai saat ini, bisa dikatakan bahwa sebagian besar jam tangan mekanik yang beredar tergolong sebagai jam tangan automatic dan banyak di antaranya juga memiliki opsi untuk memutar crown untuk mengisi tenaga layaknya jam manual, sedangkan jam manual murni sendiri biasanya hanya model-model khusus yang mengedepankan tampilan klasik atau pada kasus tertentu -seperti Omega Speedmaster- konstruksinya memang sengaja tetap dipertahankan seperti pada mulanya.

Pengalaman memiliki jam tangan automatic juga mempunyai keunikan tersendiri, terutama pada jam tangan dengan caseback transparan di mana selain melihat pergerakan jarum detik yang menyapu layaknya jam tangan mekanik pada umumnya, kita dapat melihat bagian dalam suatu jam tangan beserta movement-nya. Sering kali produsen jam mendesain rotornya dengan cantik sehingga turut melengkapi keindahan jam tersebut.

Pada akhirnya, kita sekarang mengerti mengapa orang alih-alih menggunakan jam tangan quartz yang lebih terjangkau, lebih tahan banting, dan lebih akurat justru memilih jam tangan automatic. Pilihan ini adalah soal rasa, soal jiwa dan soal estetika. Dan itu pula yang menyebabkan mengapa justru jam tangan automatic dapat mencapai harga yang fantastis, karena ada nilai lebih yang jauh melampaui dari fungsi semata. Meski begitu, untuk merasakan pengalaman jam tangan automatic tidak harus mengeluarkan kocek yang dalam karena banyak jam tangan automatic yang dapat memberikan pengalaman mengasyikkan dengan harga yang pantas dan tetap berkualitas.

Comments

Popular posts from this blog

Sejarah Jam Tangan

Jam tangan merupakan suatu perkembangan dari jam saku yang sudah ada terlebih dahulu. Konsep jam tangan sendiri sudah ada sejak abad ke-16 berupa "jam lengan" pemberian Robert Dudley kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris. Namun, kebanyakan menganggap bahwa pencipta jam tangan pertama ialah Abraham-Louis Breguet untuk Caroline Murat, saudari Napoleon dan ratu Napoli. Pada awalnya jam tangan dikenakan oleh para wanita saja seperti gelang, namun kemudian mulai bermunculan jam tangan untuk pria menggantikan jam saku mengingat kepraktisannya untuk aktivitas misal pada tentara dan pilot. Jam tangan yang sebelumnya merupakan jam saku dengan gelang atau strap kulit perlahan-lahan juga berubah. Semenjak Perang Dunia I, dengan perlunya jam tangan di medan perang untuk mengkoordinasikan taktik dan strategi, serta banyak pria yang terjun menjadi tentara, popularitas jam tangan di kalangan pria pun semakin naik. Mulai tahun 1923, John Harwood menciptakan jam tangan dengan automatic wind...

Fungsi Bezel pada Diver's Watch

Sebuah jam dikatakan sebagai jam penyelam bila memiliki fitur – tentunya – water resistant mencapai minimum 200 meter atau 20 ATM, crown memiliki sistem pengaman seperti screw-down crown, konstruksi yang cenderung bulky, serta – yang paling menonjol – adalah keberadaan bezel yang dapat diputar baik dua arah maupun satu arah. Walau demikian, jam penyelam modern saat ini umumnya hanya dapat diputar satu arah dengan mekanisme klik, untuk mempersulit bezel tanpa sengaja terputar dan mengacaukan perhitungan waktu penyelaman. Keberadaan bezel eksternal pada jam penyelam pertama kali di mulai pada 1953-1954 ketika Rolex dan Blancpain menyematkannya pada jam penyelam mereka. Bentuknya tentu sangat sederhana, dan selain masih mudah macet lantaran pasir dan kotoran mudah masuk ke sela-sela bezel, juga sangat mudah bergerak atau pindah posisi secara tidak disengaja. Membuat perhitungan dan keandalannya terbilang rendah bagi para penyelam. Inovasi demi inovasi dilakukan. Dari mulai menambahan f...

Watch Winder

Seorang kolektor tentu tidak hanya memiliki satu benda koleksi, atau setidaknya, tidak berencana berhenti hanya pada satu benda koleksi ke depannya. Jam tangan mekanikal terutama jam tangan otomatis sebagai suatu jenis barang yang rutin dikoleksi oleh banyak orang pun demikian. Namun, berbeda dengan jam tangan quartz yang menggunakan baterai dan lazim ditemukan, jam tangan otomatis dapat berhenti berfungsi jika didiamkan untuk beberapa lama tanpa dikenakan sama sekali. Jam tangan itu memang tidak rusak dan setelah diisi dayanya dengan dipakai atau diguncangkan jam tangan tersebut dapat berfungsi kembali dan jam tersebut dapat diatur ulang jarumnya. Meski begitu, untuk mereka yang sering gonta-ganti jam tangan untuk berbagai keperluan hal tersebut dirasa tidak praktis. Untuk mengatasi masalah tersebut, para pengkoleksi jam tangan otomatis menggunakan watch winder. Secara garis besar, watch winder merupakan sebuah alat yang mampu mengisi daya jam tangan otomatis tanpa perlu kita pakai s...